Oleh: ibn5sholih | 13 Desember 2010

kaca dari sekam padi


RINGKASAN
Kaca adalah salah satu produk industri kimia yang paling akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Kaca merupakan bahan yang mengandung kadar silika cukup tinggi yaitu sebesar 72,4 %, sehingga kaca dapat digunakan sebagai salah satu alternatif bahan baku pembuatan silika gel. Penelitian ini dilakukan sintesis silika gel dari kaca dengan natrium hidroksida dan asam sitrat. (Siti Samahatun Niami, 2003)
Silika diekstraksi dengan natrium hidroksida pada variasi suhu ekstraksi 400o C, 500 oC, 600 oC,700 oC, dan 800 oC. Kandungan Si terlarut dianalisis dengan AAS. Natrium silikat yang dihasilkan direaksikan dengan asam sitrat hingga terbentuk hidrogel pada variasi pH pembentukan gel 5, 6, 7, 8, dan 9. Hidrogel yang dihasilkan dipanaskan sampai terbentuk serogel. Gugus fungsi silika gel hasil sintesis dibandingkan dengan silika gel kiesel 60 dengan metode FTIR. Karakterisasi silika gel hasil sintesis melalui analisis tingkat keasaman, kadar air, dan kapasitas adsorpsi. Uji adsorpsi oleh silika gel hasil sintesis terhadap logam Mg2+, Cu2+ dan Ag+ dianalisis dengan AAS. (Siti Samahatun Niami, 2003)
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa temperatur ekstraksi silika minimal pada 600 oC. Spektra FT-IR memperlihatkan bahwa silika gel hasil sintesis mempunyai gugus silanol dan siloksan yang merupakan gugus karakteristik silika gel. Tingkat keasaman silika gel hasil sintesis semakin berkurang dengan naiknya pH pembentukan silika gel, dan tingkat keasaman tertinggi pada S.G-5. Kadar air pada pH basa lebih tinggi dari pada pH asam sedangkan kapasitas adsorpsi air pada pH asam lebih besar daripada pH basa. Adsorpsi logam tertinggi adalah pada logam Mg yaitu sebesar 1,768 10-2 mol/gram. (Siti Samahatun Niami, 2003)
Saat ini sudah diketahui bahwa abu sekam padi ternyata mengandung silika yang kemudian dimanfaatkan dalam banyak hal yaitu sebagai pembangkit listrik, kompor bahan bakar sekam padi, dan semen sekam padi. Ide-ide tersebut muncul karena bertujuan untuk mengurangi limbah pertanian.
Pemanfaatan sekam padi yang mengandung silika sebagai bahan pembuatan kaca sudah banyak ditemukan. Akan tetapi penulis mempunyai inovasi baru yakni pembuatan kaca anti peluru dengan menggunakan abu sekam padi yang mengandung silika dan dengan campuran nata de coco. Selain bisa mengurangi permasalahan limbah tani, penulis ingin memberi inovasi baru dalam pembuatan kaca anti peluru dari bahan baku sederhana. 

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inovasi yang kreatif selalu menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat Indonesia. Karena karya inovatif dan kreatif dirasa mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Tentunya inovasi yang dimaksud ditujukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kreatifitas yang laku tentu saja yang proporsional, efisien dan tidak terlalu mahal. Hal ini berkaitan dengan bahan yang digunakan dalam menghasilkan produk yang inovatif. Semakin sederhana, murah dan mudah didapat bahan yang digunakan maka semakin laku produk yang dipasarkan.
Kreatifitas Masyarakat Indonesia dalam menciptakan produk, sampai saat ini terus berkembang. Pemakaian bahan-bahan sederhana yang digunakan untuk menghasilkan karya berharga terus menjadi landasan masyarakat guna memenuhi kebutuhannya. Dari hal sepele kemudian disulap menjadi barang yang bernilai tinggi. Hingga limbah yang dulu dianggap tidak berguna, kini menjadi bahan penelitian guna mengambil manfaat dari limbah tersebut.
Salah satu limbah pertanian yakni sekam padi sudah banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan masyrakat. Diantaranya yaitu sebagai pembangkit listrik, pembuatan semen, dan kompor bahan bakar sekam padi. Akan tetapi inovasi tersebut dirasa penulis kurang inovatif. Sekam padi ternyata memiliki kandungan berharga yang mampu diinovasi menjadi bahan yang lebih bermutu tinggi.
Sekam padi mempunyai kandungan silika di dalamnya. Silika merupakan bahan baku pembuatan kaca, hal ini diketahui melalui penelitian menggunakan sintesis silika gel dari kaca dengan natrium hidroksida dan asam sitrat, ternyata di dalam kaca mengandung 72,4 % silika(Siti Samahatun Niami, 2003). Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan pembuatan kaca sudah pernah dilakukan oleh masyarakat. Akan tetapi dirasa kurang maksimal. Oleh karena itu penulis mempunyai ide untuk lebih memaksimalkan sekam padi sebagai bahan baku pembuatan kaca.
Kaca yang selama ini dibuat kurang inovatif karena hanya menggunakan bahan utama silika (Si) saja. Ide yang ditawarkan penulis yaitu mengkombinasikan silika dan nata de coco menjadi kaca anti peluru yang aman digunakan bagi Militer dan masyarakat yang berada di daerah rawan peperangan.
Kaca anti peluru yang kami buat tidak hanya ditujukan untuk kalangan militer atau masyarakat yang rawan perang saja. Karena kaca yang kuat dan tahan peluru maka bisa digunakan bagi semua kalangan masyarakat yang ingin membangun rumah, gedung, dan tempat-tempat tinggal yang lain supaya bangunan yang akan didirikan menjadi lebih kuat dan aman.

1.2 Tujuan Penulisan
a. Mensejahterakan kehidupan masyarakat Indonesia
b. Memberikan keamanan bagi kalangan Militer di Indonesia
c. Mengurangi limbah pertanian
d. Memunculkan produk inovatif dan kreatif dari bahan yang sederhana
e. Mendorong masyarakat agar lebih kreatif dan inovatif
1.3 Manfaat Penulisan
a. Memberi kontribusi kepada Pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya
b. Masyarakat merasa lebih aman dengan tempat tinggal yang menaunginya
c. Membantu kebersihan lingkungan terutama lingkungan pertanian

GAGASAN
2.1 Pemanfaatan Silika dari Sekam Padi Sejauh ini
Ngafwan.,et. al., Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta telah melakukan penilitian pada tahun 2007 tentang pemnafaatan limbah sekam padi untuk pembuatan komposit hambat panas menggunakan matrik resin. Dia mengemukakan bahwa Sifat hambat panas yang dimiliki sekam padi tersebut perlu pengembangan untuk menjadi komposit baru dengan bahan dasar dari limbah sekam padi untuk dijadikan komposit hambat panas. Sebagai penelitian awal ini dipilih Resin sebagai matrik dan limbah sekam padi sebagi serat pendek yang disusun secara acak sehingga terbentuk material komposit,karena setiap material mempunyai sifat terhadap fisis dan mekanis, makamelakukan penelitian ini dilakukan uji hambat panas, bending dan impak. Untuk memperoleh sebaran data penelitian maka penelitian ini dilakukan dengan langkah membuat variasi fraksi volume serat bervariasi.
Selanjutnya, Slamet Sulaiman pada tahun 2005 mempunyai gagasan lain yaitu Sekam padi sebagai hasil samping atau tepatnya limbah penggilingan mempunyai nilai ekonomis relative tergantung pada kondisi daerah masing masing, didaerah pengrajin batu merah sekam padi mempunyai nilai ekonomis yang cukup berarti karena dimanfaatkan untuk pembakaran batu merah dicampur dengan batubara curah kalori rendah, didaerah peternakan ayam baik ayam pedaging atau ayam petelor sekam padi juga mempunyai nilai ekonomis yang berarti karena diperlukan untuk chiken litter (alas kotoran ayam), namun banyak dibeberapa daerah penghasil padi sekam padi merupakan masalah, merupakan limbah yang untuk membuangnyapun memerlukan biaya Sisa sekam padi untuk energy. Selebihnya dari penyerapan diatas sekam padi dapat dikonversi menjadi energy yang cukup potensial, tidak bicara tentang statistik nasional dan implementasi yang sulit dicapai, tetapi masalahnya bagaimana sisa sekam padi dapat di implementasikan setempat/ regional minimal untuk mensubtitusi sebagian energy fosil/ BBM yang digunakan untu memproduksi gabah itu sendiri, sehingga berdampak langsung pada pengurangan biaya produksi pertanian (menaikkan pendapatan petani ) dan mengurangi biaya subsidi. Sekam padi sebagai sumber energy panas.
Beberapa negara juga telah mulai mengembangkan dan memanfaatkan sekam padi untuk energy, dari energy pedesaan (rural energy) sampai untuk pembangkitan tenaga listrik , pengembangan tersebut selain berdasar pertimbangan ekonomis ,pertimbangan pengurangan emisi carbon dikaitkan dengan cdm, protocol Kyoto dan isu perubahan iklim global, juga dengan prediksi bahwa kedepan bahan bakar fosil akan makin mahal dan langka sehingga harus diupayakan pengembangan energy baru utamanya energy terbarukan (renewable energy) Komposisi gas yang dihasilkan gasifikai sekam padi dilaporkan sbb: CO 13,4% H2 11,1% CH4 22% N2 58,9% H2O 4.13% Lower heating value 40.223 KJ/Nm specifik gas output 2.39 Nm3/kg sekam kering.( Slamet Sulaiman ,2005-2008)
Alexis Belonio dari Filipina mengembangkan kompor berbahan bakar sekam padi. Ide ini didapatkan dari rasa tidak tega melihat sekam padi yang tidak dimanfaatkan secara efektif. Kompor sekam ini terdiri dari dua bagian pokok, gasifier dan burner. Cara kerjanya, sekam dalam bejana berbentuk silinder dibakar dari bagian atas. Udara bertekanan dialirkan dari bagian dasar kompor menggunakan fan listrik kecil untuk membantu pembakaran. Sekam tidak sekaligus terbakar sempurna, tetapi terbakar parsial menghasilkan hydrogen, karbon monoksida dan berbagai hidrokarbon ringan. Proses ini disebut pirolisis, atau penguraian oleh panas. Hasil pirolisis tersebut kemudian diumpankan ke burner/ pembakar sekunder yang menutupi permukaan atas bejana tadi.
Kelebihan kompor ini adalah selain desainnya yang sederhana, gas hasil pirolisis dapat didinginkkan dan dialirkan melalui pipa tanpa kehilangan kualitas api yang biru. Akibatnya bermacam-macam konfigurasi dapat dilakukan. Yang paling sederhana adalah menggabungkan burner dan gasifier. Konfigurasi lain dapat juga dengan memisahkan gasifier dengan burner yang terhubung pipa besi. Jumlah burner pun bisa lebih dari satu tergantung kapasitas gasifier.
Kelemahan kompor ini adalah pengoperasian tunggal, mengharuskan penghentian api saat mengisi ulang sekam. Setelah sekam terbakar menjadi arang, kerapatannya menjadi lebih tinggi, sehingga membutuhkan pasokan udara yang bertekanan lebih tinggi. Juga setelah menjadi arang, sekam tidak menghasilkan gas lagi sehingga harus diganti sekam yang baru. Walaupun demikian, kelemahan ini dapat diatasi dengan menggunakan 2 buah gasifier yang dinyalakan bergantian.
Itulah beberapa pemanfaatan sekam padi yang sudah pernah dilakukan selama ini. Tentunya ide-ide yang pernah terealisasi mempunyai kelemahan dan keunggulan masing-masing. Oleh sebab itu perlu inovasi dan kreatifitas yang lain dalam pemanfaatan sekam padi.
2.2 Kandungan Silika Pada Sekam Padi Dan Cara Pemisihannya
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah. Penggunaan energi sekam bertujuan untuk menekan biaya pengeluaran untuk bahan bakar bagi rumah tangga petani. Penggunaan Bahan Bakar Minyak yang harganya terus meningkat akan berpengaruh terhadap biaya rumah tangga yang harus dikeluarkan setiap harinya.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak antara 8- 12% dan beras giling antara 50-63,5% data bobot awal gabah. Sekam dengan persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan problem lingkungan.
Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam mengandung beberapa unsur kimia penting seperti dapat dilihat di bawah.

Komposisi kimia sekam padi menurut Suharno (1979) :
• Kadar air : 9,02%
• Protein kasar : 3,03%
• Lemak : 1,18%
• Serat kasar : 35,68%
• Abu : 17,17%
• Karbohidrat dasar : 33,71
Komposisi kimia sekam padi menurut DTC – IPB :
• Karbon (zat arang) : 1,33%
• Hidrogen : 1,54%
• Oksigen : 33,64%
• Silika : 16,98%
Setelah dilakukan pembakaran pada sekam padi dan terbentuk abu maka komposisi dari silika lebih besar, yakni sekitar 86,9%-97,8%.(Septiana Dwi Putri Yanti,2003).
Dengan komposisi kandungan kimia seperti di atas, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya:
• sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia,
• sebagai bahan baku pada industri bahan bangunan, terutama kandungan silika (SiO2) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah, (c) sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
Selain yang disebutkan di atas, melihat dari kandungan silikanya sekam padi juga dapat dimanfaatan sebagai bahan dasar pembuatan kaca. Sebenarnya akhir-akhir ini pembuatan kaca dari pemanfaatan sekam padi sudah pernah dilakukan oleh masyarakat. Akan tetapi dirasa masih kurang maksimal. Oleh sebab itu penulis memiliki gagasan untuk pemnfaatan sekam padi sebagai pembuatan kaca.
Cara memisahakan silika dari sekam padi dilakukan dengan metode sol-gel. Yakni silika yang merupakan kandungan utama dari silika gel dimodifikasi porinya dengan penambahan ammonium karbonat sebagai molekul pengarah. Silika gel-ammonium karbonat dibuat dengan menambahkan ammonium karbonat ke dalam larutan natrium silikat hingga gelasi selesai. Gel yang terbentuk dipanaskan pada 50 oC selama 18 jam, dan dipanaskan kembali pada 80 oC dengan variasi waktu 6, 12 dan 18 jam. Gel dicuci hingga netral dan dikeringkan pada 100 oC selama 2 jam. Karakterisasi hasil dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer FTIR dan surface area analyzer. Daya adsorpsinya ditentukan dengan metode kromatografi lapis tipis terhadap ekstrak kembang sepatu.
Silika gel yang dihasilkan memiliki distribusi ukuran pori yaitu mikropori dan mesopori dengan fraksi yang dominan adalah pada daerah mesopori. Silika gel yang dihasilkan (SG-4) merupakan silika gel yang memiliki kemurnian paling tinggi, tetapi memiliki porositas paling rendah dengan jari-jari pori, luas permukaan dan volume pori total material hasil sintesis berturut-turut adalah 4,87 Å; 2,00 m2/g dan 0,49 cm3/g. SG-4 hasil sintesis tidak efektif digunakan sebagai fasa diam (adsorben) dalam metode kromatografi lapis tipis pada pemisahan senyawa-senyawa organik dalam ekstrak kembang sepatu.

2.3 Kegunaan Nata de Coco pada kaca
Nata De Coco merupakan jenis komponen minuman yang terdiri dari senyawa selulosa (dietry fiber), yang dihasilkan dari air kelapa melalui proses fermentasi, yang melibatkan jasad renik (mikrobia), yang selanjutnya dikenal sebagai bibit nata.
Nata de coco di hasilkan oleh bakteri Acetobacter xylinum untuk memproduksi selulosa ekstra-seluler atau yang kemudian di se-but nata de coco. Mungkin sulit dibayangkan jika nata de coco yang biasa kita makan, suatu saat muncul di hadapan kita dalam bentuk layar televisi atau monitor komputer. Tapi para ilmuwan dari Kyoto University telah menemukan bahwa ternyata nata de coco dapat diolah menjadi material baru yang sangat kuat dan tahan panas, tetapi sekaligus lentur, dan mampu men-transmisi-kan cahaya. Salah satu produk yang mungkin dihasilkan dari nata de coco adalah kaca
Komposit nata de coco bisa memiliki kekuatan yang sangat baik karena nata de coco memiliki microfibrils yang seragam dengan ukuran fiber kurang dari 10 nm, lurus serta membentuk jaringan seperti jaring laba-laba. Kekuatan jaringan inilah yang menjadikan komposit nata de coco mendekati kekuatan baja ringan namun dengan kerapatan yang jauh lebih rendah bila dibandingkan baja ringan. Keunggulan tersebut memungkinkan komposit nata de coco untuk dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi seperti industri otomotif, elektronik, maupun konstruksi. Selain keunggulannya yang ringan, kuat, murah dan mudah dalam proses pembuatannya, keunggulan lainnya adalah komposit tersebut dibuat dari bahan alami (renewable resources) yang ketersediaannya di alam sangat melimpah. Hal ini menjadi motovasi penulis untuk menggunakan nata de coco sebagai bahan campuran dalam pembuatan kaca. Sehingga kaca yang dihasilkan menjadi lebih kuat.
Ternyata selain air buah kelapa, skim santan juga dapat dipergu-nakan sebagai bahan baku utama pembuatan nata de coco. Proses terbentuk-nya nata adalah sbb: sel-sel Ace-tobacter Xylinum mengambil glu-kosa dari larutan gula, kemudian digabungkan dengan asam lemak membentuk prekursor pada membran sel, kemudian keluar bersama-sama enzim yang mempolimerisasikan glukosa menjadi selulosa diluar sel. Prekursor dari polisakarida tersebut adalah GDP-glukosa. Pembentukan prekursor ini distimulir oleh adanya katalisator seperti Ca2+, Mg2+. Prekursor ini kemudian mengalami polimerisasi dan berikatan dengan aseptor membentuk selulosa.
Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan Karbon © dan Nitrogen (N), melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim akstraseluler yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersbeut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata.
Nata yang dihasilkan tentunya bisa beragam kualitasnya. Kualitas yang baik akan terpenuhi apabila air kelapa yang digunakan memenuhi standar kualitas bahan nata, dan prosesnya dikendalikan dengan cara yang benar berdasarkan pada factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas Acetobacter xylinum yang digunakan.
2.4 Pembuatan kaca
Kaca adalah salah satu produk industri kimia yang paling akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Tetapi seberapa banyakkah yang kita ketahui tentang senyawa unik ini? Inilah beberapa fakta tentang kaca.
Dipandang dari segi fisika kaca merupakan zat cair yang sangat dingin. Disebut demikian karena struktur partikel-partikel penyusunnya yang saling berjauhan seperti dalam zat cair namun dia sendiri berwujud padat. Ini terjadi akibat proses pendinginan (cooling) yang sangat cepat, sehingga partikel-partikel silika tidak “sempat” menyusun diri secara teratur.
Cara pembuatan kaca dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu pembuatan natrium silikat dan pembentukan gel. Natrium silikat diperoleh melalui reaksi antara serbuk kaca dengan Na2CO3 pada temperatur peleburan 750-900 0C dengan rentang temperatur 50 0C. Natrium silikat yang terbentuk dilarutkan dalam akuades dan kemudian dianalisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Selanjutnya, pembentukan silika gel dilakukan dengan menambahkan HCl secara bertetes-tetes pada larutan natrium silikat sampai mencapai pH 7. Variasi konsentrasi HCl yang digunakan yaitu 0,2 M, 0,5 M, 1 M, 3 M, dan 6 M. Silika gel yang dihasilkan digunakan sebagai adsorben Mg(II). Karakterisasi silika gel dilakukan dengan menggunakan SSA untuk mengetahui kandungan natrium sebagai pengotor dan Spektrofotometer Infra-merah (IR) untuk mengetahui gugus silanol dan siloksan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada temperatur 900 0C diperoleh kandungan silika terlarut terbesar (2,32 mol/L). Konsentrasi HCl 0,5 M paling efektif digunakan untuk pembuatan silika gel. Silika gel yang dihasilkan memiliki tekstur gel lunak, persentase rendemen tertinggi (40,47 %), kandungan natrium paling rendah (12,55 %) dan daya adsorpsi terhadap Mg(II) sebesar 97,08 %.
Sedangkan dari segi kimia, kaca adalah gabungan dari berbagai oksida anorganik yang tidak mudah menguap , yang dihasilkan dari dekomposisi dan peleburan senyawa alkali dan alkali tanah, pasir serta berbagai penyusun lainnya. Kaca memiliki sifat-sifat yang khas dibanding dengan golongan keramik lainnya. Kekhasan sifat-sifat kaca ini terutama dipengaruhi oleh keunikan silika (SiO2) dan proses pembentukannya.Reaksi yang terjadi dalam pembuatan kaca secara ringkas adalah sebagai berikut:
Na2CO3 + aSiO2 ? Na2O.aSiO2 + CO2
CaCO3 + bSiO2 ? CaO.bSiO2 + CO2
Na2SO4 + cSiO2 + C ? Na2O.cSiO2 + SO2 + SO2 + CO
Walaupun saat ini terdapat ribuan macam formulasi kaca yang dikembangkan dalam 30 tahun terakhir ini namun gamping, silika dan soda masih merupakan bahan baku dari 90 persen kaca yang diproduksi di dunia.
2.5 Inovasi baru yang akan ditawarkan
Setelah membahas beberapa hasil karya pemanfaatan sekam padi dan proses pembuatan nata de coco. Di sini penulis akan mengemukakan ide kreatif dan inovatif yang konkrit. Pemanfaatan sekam padi selama ini untuk dibuat karya inovatif yakni kaca kurang maksimal dilakukan oleh kalangan masyarakat. Kandungan silika (Si) yang berada di dalam sekam padi dapat digunakan dalam pembuatan kaca. Akan tetapi hal itu dirasa kurang inovatif karena pembuatan kaca sudah menjadi hal biasa. Bahkan sudah banyak pabrik yang memproduksi kaca.
Kaca yang biasa akan bisa menjadi sesuatu nilai lebih jika produksi kaca lebih berinovasi. Penulis mencoba mengkombinasikan silikat gel yang terkandung di dalam kaca dengan nata de coco yang kaya akan serat. Kombinasi keduanya akan mampu menghasilkan kaca anti peluru.
Bagaimana caranya?
Langakah atau metode pembuatan kaca anti peluru ini cukup sederhana seperti metode pembuatan kaca dari bahan silika yang dibahas pada sub bab di atas. Akan tetapi yang membedakan yaitu pada satu tahap setelah mengekstrak kandungan silika yang ada di dalam sekam padi dengan suhu minimal 600 oC, kemudian silika gel dengan komposisi sekitar 72,4 % ditambah dengan nata de coco yang masih cair dengan komposisi sekitar 20 %. Dan sisanya merupakan partikel2 lain yaitu oksigen (O2) dan karbon oksida (CO2). Campuran nata de coco ditujukan untuk kekuatan kaca tersebut karena nata de coco mempunyai serat yang tinggi, hal ini memberikan keunggulan dalam pembuatan kaca anti peluru tersebut.
Dengan langkah tersebut di atas maka akan dihasilkan kaca yang transparan dan anti peluru. Sangat aman digunakan oleh militer dan cocok digunakan untuk mendirikan bangunaan yang kokoh dan lebih aman.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, S., Azmiyawati, C., dan Taslimah, 2005, Pembuatan Silika Gel Dari Abu Sekam Austin, G., T., E., 1996, Industri Proses Kimia, a.b. Jasifi, Jilid 1, Edisi Kelima,
Budavari, S., Windoholz, M., and Stroumtos, L. Y., 1989, The Merck Index,
Chang, R., and Tikkanen, W., 1998, The Top Fifty Industrial Chemicals, Random
Daintith, J., 1994, Kamus Lengkap Kimia, Edisi Baru, Erlangga, Jakarta Dewi, Retno A., P., Diponegoro, Semarang Padi Dengan Menggunakan Asam Sitrat, Skripsi, FakultasMIPA Universitas Diponegoro, Semarang
Erlangga, Jakarta Azmiyawati, C., 2004, Modifikasi Silika Gel dari Gugus Sulfonat Untuk
House Inc, New York Companion, A. L., 1991, Ikatan Kimia, Edisi Kedua, ITB, Bandung http://eprints.undip.ac.id/7540/1/Abstrak_SeptianaDP.pdf diposting oleh Septiana Dwi Putri Yanti.Diakses pada jam 20.30 WIB hari minggu tanggal 12 Desember 2010
Meningkatkan Kapasitas Adsorpsi Mg (II), Indonesian Journal Chemistry, Universitas
Merck and Co, New Jersey
Sekam Padi Dengan Menggunakan Asam Oksalat, Skripsi, Fakultas MIPA Universitas Diponegoro, Semarang
Sriyanti, dan Pardoyo, 2005, Pembuatan Silika Gel Dari Abu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: